Tentang Koperasi dan UMKM

Trading House


PROGRAM TRADING HOUSE PRODUK KOPERASI DAN UMKM PROVINSI JAWA TIMUR
 
Latar Belakang
Dengan terbukanya pasar bebas Asean Economic Community (AEC) di tahun 2015, merupakan peluang bisnis sekalugus ancaman bagi Koperasi dan UMKM,  sehingga setiap pelaku usaha dituntut meningkatkan daya saingnya. Bagi Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur, hal ini menjadi tantangan untuk meningkatkan daya saing Koperasi dan UMKM, baik dari sisi produk yang dihasilkan maupun Pemasaran produknya.
Jumlah penduduk provinsi jawa timur yang mencapai jumlah 38 juta mempunyai potensi sebagai pasar untuk produk Koperasi dan UMKM di pasar domestik. Dibandingkan dengan produk untuk pasar Luar Negeri dimana competitor luar negeri lebih unggul dalam teknologi, permodalan dan manajemen pemasaran, maka diperlukan LEMBAGA INDEPENDEN YANG PROFESIONAL untuk menangani produk Koperasi dan UMKM secara terintegrasi dan membangun Sistem kerja yang bisa difungsikan sebagai media untuk meningkatkan potensi Koperasi dan UMKM dalam mengatasi berbagai kelemahannya terutama masalah produk mulai dari hulu sampai hilir, salah satunya adalah membangun TRADING HOUSE PRODUK KUMKM, yaitu lembaga yang berfungsi melakukan mediasi pengembangan Produk, kemasan dan Pemasaran berbagai produk KOPERASI DAN UMKM.
 
Maksud dan Tujuan
Trading house didirikan dengan maksud membangun satu sistem terpadu untuk menangani masalah Pasar Produk Koperasi dan UMKM anggotanya yang secara sistemik menjembatani para produsen dengan akses pasar yang lebih luas.
 
Tujuannya Trading House secara spesifik adalah :
  1. Memediasi antara produsen dengan calon buyer potensial, khususnya buyer non ritel.
  2. Memfasilitasi pengembangan jaringan usaha dengan pasar dalam negeri maupun pasar ekspor.
  3. Memberikan konsultasi dan bimbingan teknis sesuai kebutuhan kepada podusen dan atau trader dari kalangan KUMKM anggota trading house, serta menyampaikan informasi tentang dinamika dan trend pasar, kualitas produk serta kemasan dalam rangka mendapatkan pasar non ritel khususnya maupun secara ritel.
  4. Memfasilitasi kebutuhan KUMKM anggota trading house dalam rangka mengakses teknologi produksi, distribusi dan pemasaran serta menjembatani  berhubungan dengan sumber pendanaan.
Jasa layanan Trading House
Tim Pengelola Trading House juga memberikan Jasa layanan yang pelaksaannya secara bertahab sesuai sumber daya yang tersedia antara lain :
  1. Penelitian pasar : Agar kegiatan Trading House dapat berjalan lancar maka penelitian pasar perlu dilakukan terlebih dahulu. Hasil penelitian ini kemudian diolah dan disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan KOPERASI DAN UMKM ANGGOTA TRADING HOUSE. Kalau hasilnya layak, maka informasi ini segera disampaikan kepada KOPERASI DAN UMKM ANGGOTA TRADING HOUSE untuk direalisasikan.
  2. Identifikasi calon pembeli : Trading House harus memberi jaminan bahwa pembeli, baik luar negeri maupun domestik, dapat dipercaya. Untuk itu Trading House perlu mengidentifikasi calon pembeli. Cara ini dilakukan untuk mengurangi resiko kalau berhadapan dengan bad buyers (pembeli nakal).
  3. Negosiasi penjualan : Belum semua Koperasi dan UMKM anggota trading house terbiasa dalam melakukan negosiasi dengan pembeli liar negeri. Untuk keperluan ini Trading House harus mengambil inisiatif dalam melakukan negosiasi dimana hasil negosiasi segera disampaikan ke Koperasi dan UMKM anggota trading house.
  4. Jaringan pemasaran : Salah satu kelemahan Koperasi dan UMKM berkaitan adalah pemasaran. Dalam hal ini Trading House harus mampu menyusun jaringan pemasaran, utamanya jaringan pemasaran luar negeri, sehingga omset produksi Koperasi dan UMKM anggota trading house relatif stabil dan tidak fluktuatif.
  5. Teknologi dan pengemasan : Salah satu hasil dari negosiasi adalah spesifikasi dari produk yang akan diproduksi oleh Koperasi dan UMKM anggota trading house. Untuk menjamin agar spesifikasi tersebut sesuai dengan permintaan,  maka Trading House harus mengupayakan agar teknologi maupun pengemasan yang dilakukan Koperasi dan UMKM anggota trading house sesuai dengan permintaan.
  6. Penyediaan bahan baku : Selama krisis ekonomi berlangsung, sangat dirasakan betapa KOPERASI DAN UMKM mengalami kesulitan serius dalam mendapatkan bahan baku maupun bahan penolong, yang sebagian besar harus diimpor. Dalam kaitan ini Trading House harus membantu KOPERASI DAN UMKM ANGGOTA TRADING HOUSE dalam pengadaan bahan baku dan bahan penolong sehingga pengiriman barang dapat tepat waktu.
  7. Informasi pasar luar negeri : Salah satu kelemahan menonjol dari Koperasi dan UMKM anggota trading house adalah minimnya informasi pasar luar negeri. Trading House harus bertindak sebagai pemasok informasi pasar luar negeri ke Koperasi dan UMKM anggota trading house sehingga Koperasi dan UMKM anggota trading house mempunyai gambaran tentang bisnis luar negeri termasuk pemasarannya.
  8. Pembinaan dan pengembangan : Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Trading House mempunyai jaringan dengan berbagai instansi lain. Karena itu Trading House dapat bekerjasama dengan berbagai instansi lain untuk mengadakan pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja.
  9. Akses permodalan : Trading House tidak harus menyediakan modal bagi Koperasi dan UMKM anggota trading house. Langkah yang dapat ditempuh adalah dengan menjalin kerjasama dengan penyandang dana sehingga Koperasi dan umkm anggota trading house mempunyai akses untuk mendapatkan modal manakala mereka mengalami kesulitan dalam modal.
Informasi lebih lengkap silahkan datang ke kantor Cooperative Trading House (CTH) di Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Timur, Jl. Raya Bandara juanda No. 22 Sidoarjo, Telp (031) 8671137